Juru Parkir Sang Pendakwah dan Kaum Bromocorah

Pada suatu siang yang sangat terik di Jalan Papandayan, ban sepeda motor yang saya kendarai tiba–tiba bocor . Tragedi itu bersamaan dengan kumandang Adzan di beberapa masjid di sekitar Taman Kencana. Setelah beberapa meter dari TKP, saya menemukan tukang tambal ban dan akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Ekalokasari Plaza. 
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 saya dan guru saya ustadz Muhajir harus mencari masjid untuk shalat zuhur. Atas ajakan Abah Ajir (panggilan akrab ustadz Muhajir), saya membelokkan motor memasuki areal parkir sebuah kantor provider telepon selular. Di sinilah bermula dimana saya belajar mengambil hikmah, diawali dengan diperkenalkannya saya oleh abah Ajir dengan sahabat karibnya yang berprofesi sebagai tukang parkir, yang bernama Ishaq
Sebagian orang memanggilnya ustadz Ishaq. Sosok sederhana bersuku Sunda namun pemberani, hanya ALLAH yang ia takuti. Kang Ishaq berjenggot lebat tapi tidak berkumis, memakai kaos bola ditambah rompi dan bercelana panjang di atas mata kaki. Subhanallah kurang lebih dua jam, saya dan abah Ajir banyak belajar darinya; mulai dari bagaimana menghormati tamu, menghadapi hidup dengan bahagia, cara berdakwah sampai kepada pernak-pernik dakwah yang pernah ia alami.
Tugasnya adalah menjadi juru parkir. Kang Ishaq menjalankan tugas MENJAGA berbagai merk mobil ; dari mobil Mercedez Benz sampai mobil odong–odong ; dari motor Herly Parkinson sampai motor butut. Itulah tugas suci para juru parkir yang bisa kita ambil hikmah : MENJAGA AMANAH. Perhatikanlah tukang parkir, ketika mobil mewah atau pun mobil usang datang, sang juru parkir menyambut, menerima, menjaga, mengatur dan mengamankan TITIPAN tersebut. 
Tetapi pada saat SANG PEMILIK kendaraan itu meminta kembali mobil TITIPAN nya, juru parkir itu TIDAK PERNAH MERASA SEDIH apalagi MENAHAN mobil tersebut. Demikianlah kita hidup harus melihat hikmah dari para tukang parkir; MENERIMA, MENJAGA TAPI TIDAK  MEMILIKI HAK UNTUK MEMILIKI.  Kekayaan, jabatan dan apapun yang melekat pada diri kita adalah KENDARAAN TITIPAN yang dititipkan oleh ALLAH kepada kita, Sang Juru Parkir.
“Unik”, itulah mungkin kesan pertama bagi siapa saja yang baru pertama kali bertemu dengan kang Ishaq, pasalnya ada kebiasaan yang biasa beliau lakukan namun sedikit orang yang melakukannya yaitu mengucapkan takbir kepada orang yang ia kenal ataupun yang tak ia kenal dan tak sungkan-sungkan mengingatkan karyawan perusahaan seluler tersebut dengan kalimat, “udah shalat belum?” dan ia pun sangat garang ketika melihat orang merokok atau makan pada siang hari di bulan Ramadhan, walhasil tidak ada seorang pun yang berani berkeliaran merokok dan makan di area “kekuasaannya”.
Pantas saja banyak orang memanggilnya ustadz, tutur kata hikmah plus lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang merdu banyak ia sampaikan saat saya berbincang dengannya. Ada satu pertanyaan yang abah Ajir tanyakan kepada kang Ishaq dan pada saat bersamaan, -tanpa sepengetahuan mereka berdua- saya merekam semua pembicaraan antara kedua sahabat itu. “Kang, apa sih kuncinya bisa tetap terlihat bahagia, meskipun panas tapi akang tetap enjoy dengan profesi akang?” 
Tersenyumlah kang Ishaq lalu ia berkata, “Sodorkan semua masalah kita semuanya kepada ALLAH, Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik wa’ala thooatik, Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku untuk istiqamah dan taat pada-Mu, semuanya akan kembali kepada ALLAH dan ALLAH lah sumber kebahagiaan itu.” Dan saya pun tersentuh dengan jawabannya. Lalu abah Ajir kembali bertanya,  “Kang, apa kuncinya agar tetap semangat?” Kang Ishaq menjawab, “ATM”, lalu saya bertanya, “apa itu kang ATM ?”, Kang Ishaq menjawab, “Allah Tempat Meminta, beribadahlah kepada ALLAH dan mohonlah pertolongan kepada-Nya, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
Kang Ishaq senantiasa komitmen dengan dakwahnya, segala macam cara yang berisiko ia tempuh, hanya untuk mengajak orang lain kembali kepada ALLAH. Suatu hari di kota Surabaya, Kang Ishaq mencoba berdakwah di tengah kaum bromocorah; ada centeng toko, preman terminal bahkan ada preman di pelabuhan. 
Puncaknya ketika kang Ishaq harus berhadapan dengan para jago gulat dan panco untuk bertarung dengan syarat apabila kang Ishaq jatuh tersungkur maka kang Ishaq harus menjadi kaum bromocorah tapi sebaliknya kalau mereka yang kalah mereka harus menjadi kaum pengikut mushalla. Kang Ishaq mulai komat-kamit membaca ayat-ayat yang ia yakini dapat mendatangkan ketenangan dalam hatinya dan menyerahkan segala sesuatunya kepada ALLAH al-Qowiyy (Maha Kuat) dan al-Aziiz (maha Perkasa). 
Pertarungan pun dimulai dan kang Ishaq nyaris tersungkur dan pada detik-detik akhir kang Ishaq membalikkan keadaan, dengan izin Allah ia dapat membuat para bromocorah tersebut tersungkur. Dan akhirnya mereka dengan jantan mengakui ketangguhan kang Ishaq dan menerima syarat menjadi pengikut kaum mushalla. Allahu Akbar!
Cerita lain yang ia sampaikan, suatu hari di daerah pedalaman di Banten, kang Ishaq menyuruh orang ke mushalla untuk shalat berjamaah, namun yang di dapat adalah tantangan adu KANURAGAN oleh jawara Banten. Sama seperti di Surabaya siapa pun yang kalah harus menjadi bagian dari pengikutnya. Kang Ishaq mengambil air putih yang dingin dan membaca doa masuk WC, dengan penuh keyakinan kepada ALLAH, air putih itu diberikan kepada para jawara dan apa yang terjadi ? jawara itu pun kepanasan karena air dingin itu berubah menjadi air panas bi idznillah. 
Akhirnya si jawara itu menantang kembali ilmu KADIGDAYAAN yang ia miliki dengan menyayat wajahnya dengan silet yang tajam. Dan si jawara itu tidak terluka sedikit pun. Kang Ishaq tidak bergeming, dengan yakinnya ia mengambil batu sekepalan tangan dan membaca doa masuk WC, believe it or not, batu itu hancur seperti tepung terigu. Allahu Akbar!
Alhamdulillah, saya dapat mengambil hikmah dari cerita-cerita yang ia sampaika
n, yang awalnya saya nyaris tidak percaya, namun secara perlahan saya mempercayai cerita tersebut karena bahasa wajah, bahasa tubuh dan kekuatan bertutur sangat kuat dan tulus ikhlas tanpa rekayasa karena diselingi ‘ALLAH Hade euy” …. ALLAH AKBAR!
Mutiara akan tetap menjadi mutiara meskipun dalam kubangan lumpur. Kang Ishaq bagaikan mutiara di tengah hiruk pikuk pongahnya dunia, kang Ishaq tetap menunjukkan mutiara tanpa harus menggadaikan nilai-nilai kesucian dakwah yang bisa ditukar dengan “manut kepada mereka yang punya uang”.
Belajarlah, belajarlah dan belajarlah meskipun dari seorang tukang parkir bahkan dari seorang pengayak comberan sekalipun. Likulli sya’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Balon terbang karena isinya bukan karena warnanya. Janganlah kita terjebak dalam penampilan fisik semata, karena pandangan mata bisa menipu, maka pergunakanlah pandangan mata hati yang jernih dalam melihat segala sesuatu.
Terima kasih, syukron jazakumulloh khoiron katsiron kang Ishaq, semoga ALLAH menjagamu.
Kelebihan seorang alim dari pada seorang ahli ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu. Sesungguhnya ALLAH dan para MalaikatNYA dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan kepada guru-guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Wallahu’alam bi ash-Showab
Jalan Pajajaran, 28 September 2010. Pukul 13.00-15.00
Sumber : dakwatuna.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: