Malam Pertamaku Menyingkap Jatidiriku – TAMAT

Orang bilang, Fatimah adalah wanita yang cantik, muslimah yang sangat baik hati idaman bagi para calon suami. Sebuah nama yang diberikan oleh orangtuaku karena mereka menginginkan aku bisa seperti Fatimah putri Rasululloh SAW.  Seorang Fatimah yang sangat disayang oleh Rosululloh, yang zuhud semasa hidupnya, juga yang bisa memberikan keturunan Rosulullah SAW (ahlul Bait) yang tersebar di hampir semua negeri Islam. Aku bangga memiliki nama tersebut dan ingin menjadi anak sholihah yang berbakti kepada orang tua serta kelak bisa menjadi perhiasan bagi suami yaitu sebagai seorang istri yang sholihah.
Masa kecilku dibesarkan dalam lingkungan beragama. Belajar ilmu pengetahuan dipagi hari dan agama di sore hari adalah kegiatan rutin yang harus aku jalani setiap hari. Ayahku mengirim ke pondok pesantren dikala sekolahku liburan cawu atau semester. Itulah sekelumit kisah tentang masa kecilku yang saat ini sangat aku rindukan. Masa-masa dimana aku bisa dengan bebas leluasa dan tenang mengerjakan amalan-amalan ibadah tidak seperti saat sekarang yang aku rasakan yang penuh dengan keraguan dan ketidaktahuan.
Hari ini adalah hari pernikahanku, hari dimana aku akan mengakhiri masa lajangku, hari yang sangat aku nanti-nantikan. Masih terpatri diingatanku kala pak Ustad yang mengajarku di madrasah menyampaikan sabda Nabi SAW bahwa menikah merupakan sunnah dan barang siapa yang menikah maka ia telah melaksanakan separuh dari agamanya. Dengan merasa yakin aku menerima lamaran kakak senior sewaktu aku mengenyam pendidikan tarbiyah di sebuah kampus IAIN. Kami sama-sama aktifis kampus yang aktif di Lembaga Dakwah Kampus dan sekarang sama-sama sedang mengabdi sebagai dosen di kampus almamater.
Alhamdulillah acara pernikahan berlangsung khidmat sesuai rencana, saudara dan kerabat serta teman-teman berdatangan untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa atas rumahtangga baru kami. Mendoakan supaya menjadi istri sholihah, bisa membangun keluarga samara, awet hingga kakek nenek dan masih banyak lagi ucapan selamat dan doa yang disampaikan oleh para undangan yang hadir. Dengan senang hati dan bersungguh-sungguh kami mengaminkan doa-doa mereka.
Malam ini adalah malam pertama aku menjadi seorang istri. “Fatimah sayang, aku kan sudah sah menjadi suamimu, jadi kamu sudah bebas melepas jilbabmu di kamar ini” kata-kata suamiku memecahkan keheningan malam itu. Takut, malu, berdebar, bingung, semua perasaan bercampuraduk malam itu kala aku harus tidur sekamar dengan suami yang masih agak asing bagiku. Namun aku berusaha untuk menenangkan diri dan aku berfikir bahwa ini adalah saatnya aku melakukan ibadah sebagai seorang istri untuk melayani suami.
Akhirnya aku bisa merasakan rileks, sambil melepaskan jilbabku kubisikkan kepada suamiku bahwa aku sudah siap untuk melayaninya. Dalam kepasrahan itu, kami merasakan hal yang sangat aneh. Sesuatu yang diluar bayanganku dan mungkin juga suamiku. Malam berikutnya kami masih tetap tidak bisa melakukan hubungan suami istri. Akhirnya kamipun sepakat untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.
Serangkaian tes telah kami jalani dan hari ini adalah hari yang sangat kami nanti-nantikan untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi dengan kami. Seorang dokter spesialis kandungan datang menghampiri kami berdua yang sudah sekian lama menunggu di luar ruangan. “Silahkan bapak menunggu di luar, saya mohon ijin ingin bicara dengan istri anda dulu” itulah kata dokter yang disampaikan ke suami saya. Suami saya mengijinkan dan sambil tersenyum mengatakan akan menunggu di taman luar hingga giliran waktunya di panggil nanti. Dengan sangat cemas dan was-was aku menganggukan kepala sambil masuk ke dalam ruangan dokter.
Siang itu bagaikan disambar petir disaat dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. Hal yang tidak pernah ada dalam benak pikiranku namun aku harus menerima kenyataan itu. Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan selama ini bahwa aku di vonis menderita Androgen Insensitivity Syndrome (AIS)  atau lebih khususnya Complete Androgen Insensitivity Syndrome (CAIS). Orang awam akan mengenal penyakit yang kuderita ini dengan istilah penyakit kelamin ganda atau hermaprodit semu laki-laki. Tertegun sejenak diriku mendengar berita buruk yang disampaikan oleh dokter. Aku benar-benar shock mengetahui bahwa diriku secara genetik adalah laki-laki.
Dokter menjelaskan kepadaku bahwa penderita CAIS memiliki penampilan seperti perempuan normal, dengan alat kelamin luar seperti wanita, mempunyai vagina yang lebih pendek dari normal,dan payudara akan tumbuh mulai masa prepubetas dengan hasil pemeriksaan kromosom menunjukkan 46,XY (sesuai kromosom pada laki-laki) dan kadar hormon testosteron normal atau sedikit meningkat. Dari hasil pemeriksaan tubuhku, tidak ditemukan struktur alat genital wanita seperti rahim dalam diriku. Bahkan dari hasil USG diketahui adanya dua testis yang tidak berkembang dengan sempurna yang terletak dalam rongga perutku hingga dokter menyarankan, untuk menghindari terjadinya tumor,  supaya aku nantinya melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan sperma yang selama ini menumpuk sekian lama didalam tubuhku.
Sepertinya pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ sedang menghampiri diriku. Dalam batinku, aku ingin menjerit dan berteriak protes kepada Alloh yang tidak adil pada diriku. Kecewa, menyesal, marah, malu, putus asa, semua perasaan itu muncul bergantian sesaat setelah dokter memberikan penjelasan tentang keadaanku. Saat ini aku sama sekali tidak mengenali siapa diriku, diri Fatimah yang selama ini melekat dibadanku seolah-olah terhempas jauh tak terpandang. Air mataku sudah tak mampu ku bendung lagi, tenggorokanku sudah tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hatiku sakit sekali dan menangislah aku di ruangan dokter sambil meratapi nasibku.
Ya Alloh…. Cobaan apa ini yang Kau berikan kepada hambaMu ini??  Innalillahi…… mimpikah aku ini?? Aku masih tidak percaya dengan takdir yang telah Engkau tetapkan pada diriku ini. Saat ini aku benar-benar tidak bisa membedakan apakah Engkau sedang memberiku cobaan, peringatan atau bahkan hidayah. Ingin kusesali nasib yang menimpaku ini, namun aku tidak ingin menjadi makhlukmu yang tidak bersyukur.
“Sabar sabar dan istighfar Bu….. terus saja istighfar” kata-kata yang diucapkan oleh dokter itu menyadarkanku untuk berhenti menangis. Ku minum air putih yang diberikan oleh dokter untuk menenangkan diriku. Astaghfirullohal ‘adzim….. Kutarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menghentikan tangisku yang tak kunjung habi
s. Aku berusaha untuk bisa menguasai kembali perasaan-perasaan yang menghantui diriku. Melihat diriku agak mulai tenang, kembali dokter melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti. Dia menanyakan apakah aku akan memberitahukan keadaan ini kepada suamiku. Dokter akan membantu menjelaskan kepada suamiku tentang kondisiku.
Ya Alloh ….. aku tidak tahu harus menjawab apa, akankah aku  menutupi aib ini demi egoku dan keutuhan rumah tanggaku atau akankah aku menyampaikan kebenaran meski itu sangat pahit untuk mengatakan dan pasti menyakitkan. Hanya geleng kepala tanpa kata, jawaban yang bisa kuberikan kepada dokter. Sepertinya Dokter memahami perasaanku dan akhirnya memanggil suamiku yang telah setia menunggu di luar untuk dipersilahkan masuk. Dokter menjelaskan kepada suamiku bahwa berhubungan suami istri bagi pasangan baru itu tidak harus didapatkan pada malam pertama. Pasangan baru biasanya memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Komunikasi dua arah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan berumah tangga. Anda dan istri anda butuh komunikasi dan istri anda sangat membutuhkan ketenangan.
Sepanjang perjalanan pulang aku diam membisu, tak sepatah kata keluar dari mulutku. Tiba-tiba suamiku berhenti mengendarai sepeda motornya, dia memakai jas hujan dan memintaku untuk berlindung didalam jas hujan. Dibalik selubung jas hujan, pikiranku melayang kesana kemari mencoba mengurai permasalahan yang sedang kuhadapi. Sempat terbersit untuk mengakhiri hidupku dengan menjatuhkan diri di jalan namun bayangan neraka tiba-tiba muncul.
Astaghfirulloh…… segera ku ucapkan istighfar dan menjernihkan kembali pikiranku yang sedang kacau balau. Aku harus sabar dan ikhlas menghadapi cobaan ini dan yakin bahwa aku pasti mampu menghadapinya. Aku akan menagih janji Alloh, sebagaimana yang Alloh firmankan di ayat terakhir dari surat Al Baqarah yang berarti bahwa Alloh tidak akan memberikan cobaan kepada kaumnya diluar batas kesanggupannya. Janji Alloh ini yang menahanku untuk tetap duduk diboncengan sepeda motor suamiku hingga akhirnya kami sampai di garasi rumah.
Dengan langkah gontai, berjalan disamping suamiku aku memasuki rumah mertuaku. Aku berusaha tegar didalam rumah dan didepan orang-orang yang masih asing bagiku. Ingin kulupakan sejenak masalahku dengan pergi ke dapur untuk membantu ibu mertua yang sedang mempersiapkan makan malam untuk kita berlima. Kuperhatikan ibu mertua dan adik perempuan iparku yang sedang sibuk membuat gado-gado, woooow… menu kesukaanku. Sesekali kata-kata iya dan tidak, tanpa ada hasrat untuk menerangkan lebih lanjut, keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang mencoba untuk lebih mengenalku. Sesaat kemudian Ibu mertua memintaku untuk memanggil suamiku yang lagi asyik ngobrol bersama ayah mertua di ruang keluarga untuk diajak makan malam bersama. “Subhanalloh, Ini adalah makanan favorit Fatimah” suamiku mengatakan kepada keluarganya sebelum kita memulai makan. Malam itu ibu mertua nampak senang sekali karena beliau tidak sengaja telah menyajikan menu favorit untuk menantunya.
Semuanya sedang menikmati masakan ibu mertua yang jago masak. Ehm…… aku tidak lapar, aku tidak selera untuk bersantap malam tapi…… aku tidak mungkin beranjak dari kursi sebelum mereka selesai makan malam. “Ayo Fatimah, tidak usah malu, anggap saja seperti di rumah sendiri” suara ibu mertuaku tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Sejenak aku sadar, astaghfirulloh…. ternyata tinggal piring ku saja yang masih kosong. Segera kuisi piringku dengan kentang rebus, telur rebus, pentol bakso, tahu rebus dan sayuran segar kemudian kutuang kuah gado-gado di atasnya. Kupaksakan diriku untuk menghabiskan apa yang ada di atas piringku karena aku tidak ingin mengecewakan ibu mertuaku.
Di dalam kamar, suamiku menasehatiku untuk tidak terlalu memikirkan kejadian malam pertama itu. Dia menjelaskan padaku bahwa dia tidak akan memintaku untuk melayaninya kalo memang aku belum siap. Dalam Islam memang istri berkewajiban untuk melayani suami apabila suami meminta untuk melakukan hubungan suami istri, namun bukan berarti suami bisa memaksa istri untuk melayaninya dikala istri secara batin belum siap. Kata-kata suamiku sedikit melegakanku, meski aku tahu bahwa bukan itu sebenarnya masalah yang sedang kuhadapi. Dengan berdebar, aku meminta ijin waktu satu hari kepada suamiku untuk menginap sendirian ke rumah orangtuaku dan kebetulan besok aku tidak ada kelas mengajar. Aku mengatakan bahwa ada banyak hal yang perlu aku tanyakan pada ibuku terkait dengan pengalaman ibuku dalam menghadapi malam pertama. Meski kedengarannya aneh, namun suamiku mengijinkan aku untuk pulang kalo memang itu dirasa solusi terbaik yang harus kuambil. “Ok lah…. Besok mas akan mengantarkan Fatimah ke rumah Bapak Ibu, sebelum berangkat ke kantor” suamiku menjawab sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Malam itu kupandangi suamiku tercinta yang sudah lelap dalam tidurnya, akankah ini malam terakhir aku bisa memandangnya sebagai suamiku. Aku sangat mencintainya, dia sangat baik memperlakukan aku sebagai istri. Aku tidak ingin kehilangan masa-masa seperti ini, namun aku juga tidak ingin membohonginya terus menerus. Rasanya aku ingin menolak takdir yang telah digariskan kepadaku, aku masih ingin membangun rumah tangga sakinah bersamanya, aku juga masih ingin melahirkan dan membesarkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tapi…. itulah kenyataan hidup yang harus aku hadapi, aku tidak boleh hidup dalam bayang-bayang, aku tidak boleh melakukan praktek homoseksual dengannya.
Tapi aku juga bingung dari mana aku harus memulai untuk menjalani hidup ini sebagai aku yang sekarang. Ya Alloh, berat sekali rasanya memikul beban yang Engkau cobakan padaku ini. Kulangkahkan kakiku beranjak ke kamar mandi untuk memohon mukjizat dariMu ya Alloh. Mukjizat yang bisa menampik hasil analisa dokter tadi siang, mukjizat yang mampu membuktikan bahwa aku ini adalah seorang perempuan sejati baik secara penampilan maupun genetika. Kutanggalkan bajuku dan ku berdiri di depan kaca besar di kamar mandi. Kuamati cerminan tubuhku lama sekali, hal yang belum pernah aku lakukan selama ini, dari kepala hingga ujung kaki.
SubhanaAlloh aku memang wanita yang cantik, sambil berputar di depan kaca, aku bisa melihat betapa sempurnanya wanita yang ada di bayang-bayang kaca itu. Aku tidak ingin lari dari sosok seorang Fatimah yang ada dalam cermin itu. Tersungkur aku jatuh ke lantai, terngiang kembali kata-kata dokter tadi siang, aku ini bukanlah seorang wanita. Pernyataan yang sama sekali berlawanan dengan bayangan yang ada dalam cermin itu. Ah …… tapi inilah takdirku, mungkin memang aku di kodratkan untuk menjadi seorang laki-laki.
Sambil kukenakan bajuku kembali, ada rasa penyesalan yang amat mendalam, kenapa aku tidak menyadari hal ini sedari kecil, kenapa ibuku tidak pernah menanyaiku tentang hal-hal ini, kenapa aku hanya membiarkan saja tanpa memeriksakan diriku yang tidak pernah sama sekali mengalami haid. Oooohh…. seandainya aku mengetahui sedari kecil mungkin beban yang kupikul tidak seberat ini, oooohhh seandainya orangtuaku mengetahui hal ini semenjak aku baru dilahirkan mungkin saat ini aku sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, oooohhhh seandainya aku tahu hal ini sebelumnya pasti aku tidak akan terima lamaran suamiku. Oh tidak….. tidak ad
a gunanya menyesali dan meratapi hal-hal yang sudah berlalu. Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana kedepannya ini nanti, keputusan apa yang akan aku ambil untuk menyelesaikan masalahku ini. Segera kuambil air wudhu dan aku niatkan untuk sholat tahajut untuk bermunajat kepada Alloh.
Kembali aku masuk ke kamar pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan suamiku. Kuambil sajadah dan mukena, kuhamparkan sajadah disamping ranjang tidurku dan kupakai mukena putih pemberian suamiku sebagai mas kawin pernikahan kami. Tiba-tiba…… Ya Alloh…. bagaimana ini?? masihkah aku berkewajiban untuk menutup kepalaku selayaknya seorang wanita yang menutupi auratnya? Dan ya Alloh…… ternyata aku masih belum berani menghadapi kenyataan ini. Aku tetap ingin memakai mukena karena itu sudah menjadi kebiasaan dari kecil disaat aku hendak iktilad denganMu ya Alloh.
Bersimpuh aku di hadapanMu ya Alloh, malam ini banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan padamu ya Alloh. Berilah kekuatan dan keimanan pada hambamu yang baru saja kehilangan identitas diri sebagai seorang wanita. Dari kecil aku sudah dibiasakan untuk selalu jujur dan ikhlas, namun kenapa saat ini sulit sekali bagiku untuk menyandangnya. Dalam renunganku, teringat amalan sholat jum’at yang selama ini telah aku tinggalkan, khitan yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim, hingga bagaimana cara untuk menanggalkan jilbab di tempat umum karena hal itu sudah bukan menjadi kewajibanku lagi.
Ooohhh belum lagi…… Rasanya segunung urusan dunia yang harus aku selesaikan, bagaimana dengan namaku “Fatimah”, bagaimana dengan KTP-ku yang tertera “perempuan”, bagaimana dengan buku nikahku yang menuliskan “istri”, bagaimana dengan panggilanku “bu dosen” di kampus tempat aku mengajar, bagaimana dengan teman-temanku yang kebanyakan wanita, bagaimana dengan suamiku dan keluarganya, bagaimana dengan orang tuaku sendiri yang saat ini usianya sudah renta, bagaimana dengan saudara-saudara kandungku, dan masih banyak lagi yang aku ingin curhat kepadamu ya Alloh. Aku ingin menumpahkan semua kegundahan hatiku padamu malam ini ya Alloh.
“Fatimah, aku sholat sunnah dulu ya sebelum kita sholat subuh berjamaah” suamiku berkata sambil menghamparkan sajadah di sebelah kiriku. Aku tersadar, ternyata aku sudah menghabiskan seluruh malamku diatas sajadahMu ya Alloh, namun demikian belum selesai juga aku curhat padaMu ya Alloh. “Silahkan mas” jawabku sambil menyusul untuk melakukan sholat sunah juga. Setelah itu, kami sholat subuh berjamaah. Meski merasa aneh untuk memakai mukena namun kuteruskan saja untuk tetap memakai karena aku takut suamiku mengetahui siapa aku sebenarnya.
Sarapan pagi sudah usai, aku pamit kepada ibu mertua untuk pulang sehari menengok orangtua. Terbesit di wajah ibu mertua kesan yang sama dengan yang terjadi pada suamiku tadi malam saat aku minta ijin padanya. Sebelum ibu mertuaku bertanya sesuatu, suamiku sudah terlebih dahulu merayu ibundanya untuk mengiyakan keinginanku.
Sambil berangkat ke kampus, suamiku mengantarkanku lebih dulu ke rumah orangtuaku, kebetulan kami tinggal di kota yang sama. Duduk diatas sepeda motor, suamiku memboncengku berangkat ke rumah orang tuaku. Berkecamuk pikiranku, tak bisa kubayangkan apa yang akan kulakukan di rumah nanti, apa yang musti kukatakan kepada kedua orang tuaku yang selalu mengajariku kejujuran, keputusan mana yang harus kuambil diantara tetap menjadi Fatimah atau akan melakoni seorang tokoh yang benar-benar baru. Oh Tuhan…… kenapa semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benakku. Bisakah aku menguasai diriku ini ya Alloh? Mampukah aku menghadapi ujianmu ini ya Alloh?
Sumber : Co-Pas dari sebuah Milis.
“Apakah Saudara/i sekalian penasaran bagaimana kelanjutannya…?”
Sesampainya Fatimah di Rumah Orang tuanya, maka Fatimah memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang Penyakit CAIS yg dideritanya. Kemudian Fatimah mempertanyakan kepada kedua orang tuanya kenapa dia tidak diberitahu atau diobati tentang penyakit yg dideritanya sejak Fatimah masih kecil…
Ada beberapa kemungkinan jawaban dari kedua orang tuanya. 
1. Bisa saja kedua orangtuanya tidak mengetahui / bodoh dalam memperhatikan Fatimah tentang kesehatannya.
2. Atau mgkin Orang tuanya sudah mengetahui bahwa Fatimah adalah laki-laki, Tetapi mgkn kedua Orangtuanya ingin mempunyai anak perempuan. Atau mgkn ada alasan lainnya…
Akhirnya Fatimah pun dioperasi & berganti kelamin menjadi seorang PRIA / LAKI-LAKI.
Itulah kelanjutan dari kisah nyata diatas. Semoga menjadi Pelajaran dan Hikmah utk kita semua. Amin…
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: