MENGENAL DAN MEMAHAMI JAM HIJRIYAH / JAM ISLAMI

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” Q.S. Al An’am (6) : 96.

 

KONSEPSI JAM HIJRIYAH

 

Bismillahirrahmaanirrahiiim

AlhamduliLLah, lebih dari satu abad kita umat Islam sedunia turut menggunakan jam konvensional, sebuah jam yang tiada lain merupakan pelengkap dari konsepsi perhitungan waktu dalam penanggalan Masehi yang dikonvensikan pada tahun 1855 dan 1881. Jadi jam konvensional yang kita pakai selama ini sebenarnya nama lain dari jam Masehi. Lantas jika penanggalan Masehi sudah ada (dilengkapi) hitungan jam Masehinya, bagaimana dengan penanggalan Islam kita, yaitu penanggalan Hijriyah, adakah konsepsi hitungan jam nya? Tentu saja ada, karena jika penanggalan Masehi ada hitungan jam Masehinya, maka penanggalan Hijriyah pun pasti ada hitungan jam Hijriyah nya. Sekaligus sebagai bukti bahwa ajaran Islam itu sudah Allah SWT. buat sempurna. Inilah konsep jam Hijriyah kita.

 

JAM HIJRIYAH

Jika kita menyimak Firman Allah SWT. di  atas, nyata sekali bahwa ayat tersebut secara gamblang menerangkan bahwa alat penghitung waktu yang digunakan dalam syari’ah Islam adalah matahari dan bulan (syamsiah dan komariah). Sementara itu sebagaimana diketahui perhitungan waktu penanggalan Masehi hanya menggunakan matahari saja tanpa menggunakan bulan.

Mengapa penanggalan Islam menggunakan matahari dan bulan? Karena sejatinya sebuah konsepsi penanggalan yang sempurna itu haruslah menggunakan kedua-duanya, tidak bisa hanya menggunakan matahari saja atau bulan saja. Sebab secara fungsional dan operasional; matahari akan berperan menghitung perjalanan waktu dalam periode harian dan bulan akan berperan menghitung waktu dalam periode bulanan. Demikian seharusnya sebuah konsepsi penanggalan.

Terkait dengan konsepsi jam Hijriyah, sungguh kita akan melihat sebuah konsepsi jam yang sangat cerdas, yang akan membuat jam berfungsi lebih optimal, alami dan multi fungsi. Konsepsi yang pastinya akan melahirkan paradigma baru. Walhasilkini kita umat Islam dan juga dunia internasional akan diberikan dua pilihan konsepsi jam, yakni jam konvensional atau jam Masehi dan jam syari’ah Islam atau jam Hijriyah. Kita dipersilahkan memilih satu atau menggunakan keda-duanya secara bijak sesuai kebutuhan. Adapun bagi kita umat Islam tentu akan menggunakan kedua-duanya, jam Hijriyah sebagai jam utama dan jam Masehi sebagai jam kedua guna pergaulan nasional dan internasional.

 

PENEMPATAN JAM 00.00 (24.00) DALAM JAM HIJRIYAH

Selama ini kita mengetahui jam 00.00 atau jam 24.00 sebagai tanda pergantian hari dan tanggal itu terjadinya pada pertengahan malam. Itu benar, tapi yang kita ketahui itu sebenarnya jam 00.00 untuk menandai pergantian hari dan tanggal pada penanggalan Masehi. Sedang jam 00.00 dalam penanggalan Hijriyah sendiri, karena alat hitungnya menggunakan matahari dan bulan, maka jam 00.00 nya bukan di pertengahan malam (di titik nadhir) sebagaimana sistem syamsiah, akan tetapi di awal malam, yakni pada kisaran waktu terbenamnya matahari. Dalam hal ini terbenam matahari atau jam 00.00 awal malam kita patok jam 18.00 dan terbit matahari atau jam 00.00 awal siang dipatok jam 06.00.

 

PEMBAGIAN WAKTU DALAM JAM HIJRIYAH

Kita mengetahui bahwa perputaran bumi pada porosnya dalam satu hari satu malam itu disepakati lamanya adalah 24 jam. Dan kita juga tahu bahwa jam konvensional membagi waktu 24 jamnya dengan pembagian 12 jam AM, dari tengah malam sampai tengah hari atau dari titik nadhir sampai titim zenith matahari (membentuk poros utara selatan) dan 12 jam PM, dari tengah hari sampai tengah malam. Adapun jam Hijriyah pembagian waktunya adalah 12 jam wilayah Rest Time/RT atau waktu istirahat, dari awal malam sampai awal siang/dari terbenam matahari jam 18.00 sampai terbit matahari jam 06.00 (membentuk poros timur barat) dan 12 jam wilayah Work Time/WT atau waktu bekerja, dari terbit matahari sampai terbenam matahari. Jadi kalau jam konvensional AM & PM sedangkan jam Islami RT & WT. Sebuah pembagian waktu yang tentu lebih realistis dan lebih bermakna karena waktu dibagi menjadi wilayah kerja dan wilayah istirahat.

 

PENYEBUTAN WAKTU DALAM JAM HIJRIYAH

Dalam bahasa Indonesia, kita menyebut hitungan waktu jam konvensional dengan sebutan “jam atau pukul.” Adapun penyebutan hitungan waktu dalam jam Hijriyah, dari sekian pilihan kita memilih penyebutan dengan kata “ashr” yang artinya “masa.” Penyebutan ini diambil dari nama surat Al “Ashr yang secara khusus berbicara tentang pentingnya fungsi waktu. Jadi penyebutan waktunya : ashr 1, ashr 2, ashr 3 dan seterusnya. Penyebutan “ashr” itu berlaku di seluruh dunia, sehingga ada keseragaman dalam penyebutan di manapun kaum muslimin berada.

 

FUNGSI JAM HIJRIYAH

Fungsi jam dalam Islam ada dua. Pertama jam berfungsi sebagai penghitung waktu dan kedua berfungsi sebagai penunjuk waktu. Jadi jam Islam itu berfungsi ganda. Adapun jam konvensional atau jam Masehi konsepsinya hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu saja, tidak bisa untuk penghitung waktu.

 

KOORDINAT WAKTU JAM HIJRIYAH

Kita tentu tahu bahwa koordinat waktu jam konvensional itu di letakan di kota Greenwiche di negara Inggris. Koordinat waktu tersebut disingkat GMT. Tapi koordinat waktu jam Islam bukan di sana melainkan di kota Mekkah Al-Mukaromah, tempat di mana kiblat shalat kita berada, yaitu Ka’bah Baitullah, di negara Arab Saudi. Karena kordinat waktu jam Islam itu disingkat MMT (Mekkah Mean Time).

 

SELISIH WAKTU ANTAR KEDUANYA

Selisih waktu antar jam Hijriyah dan jam konvensional adalah 6 jam tepat. Jadi ketika posisi di jam konvensional jam 07.12 AM maka dalam jam Hijriyah ashr 01.12. Dan jika pada jam Hijriyah ashr 03.27 maka pada jam konvensional menunjukkan pukul 09.27. Dalam selisih hitungan ini yang diselisihkan hanya bilangan jamnya saja. Sedangkan bilangan menit dan detiknya sama. Dan selisih 6 jam ini berlaku di manapun di seluruh dunia. Rumus untuk mengkonversi antara keduanya yaitu jam 0 s.d. 6 ditambah 6, dan jam 7 s.d. 12 dikurangi 6. Dengan ketentuan selisih hitungan waktu pada jam lokal di negara masing-masing. Adapun selisih waktu menurut geografis (garis edar matahari) antar negara tetap sebagaimana biasa. Misalnya selish waktu antara Jakarta dan Mekkah sudah pasti tetap 4 jam.

 

Semoga Bermanfaat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: