Hanya satu dari sejuta ayah

Suatu malam selepas Isya. Di sebuah rumah mungil. Lelaki itu, sang ayah, sedang melantunkan al_Qur’an sambil memangku bocah lucu berusia 2 tahun yang sedang asik bermain dengan mainan di tangannya. Sang Ibu memperbaiki mukenanya yang agak berantakan namun mulutnya tetap komat-kamit membaca al-Qur’an, surat yang sama yang sedang dibaca. Di hadapan sang ayah seorang gadis kecil dan adiknya juga sedang mengikuti bacaan Qur’an ayah. Tampaknya mereka sekeluarga sedang mengulang hafalan al-Qur’an. Ruh al-Qur’an menaungi keluarga itu. Menyelusup jauh memberikan rasa nyaman dan bahagia. Sepekan sekali setidaknya mereka melakukan itu, di antara hari ayah yang penat dan waktu bunda yang juga nyaris tanpa istirahat.
Di banyak tempat lain, di hari-hari ini. Lebih banyak hari yang berlalu tanpa ‘kehadiran’ sang ayah. Lima atau enam hari dalam sepekan. Akhir pekan yang tersisa dihabiskan ayah untuk beristirahat, menjalankan hobbi atau menemui rekan bisnis. Di hari-hari kerja, ketika sampai di rumah, dalam kelelahannya ayah kerap lupa bertanya kepada buah hati.”Bagaimana shalatmu hari ini, Nak?”, “Mari sayang, Ayah ajarkan engkau sebuah doa,” atau,”Main yuk? Jagoan Ayah mau main apa sekarang?”. Ketika anak merengek minta Ayah mengambil raport di sekolah, Ayah lebih sering menjawab,”Itu urusan Bunda. Masak bapak-bapak ambil raport?”. Hff, ayah selalu sibuk. Ayah selalu tidak punya waktu. Ayah tidak mau diganggu ketika sedang membaca koran. Ayah lebih asik dengan blackberry dan pekerjaannya. Ayah cuma bisa cari uang. Mungkin itu yang dipikirkan oleh anak-anak ayah yang sibuk dan tidak peduli.
Seringkah Ayah menyempatkan diri menjumpai anak-anak dengan segenap hati setengah jam saja per-hari? Sekedar berbincang, bermain, atau memberikan motivasi? Mungkin kita ingat lirik lagu lawas yang pernah menjadi hits”I love you Daddy”. Sang ayah, menurut lagu itu, hanya ada satu dari sejuta ayah. The one in a million and a million in one. Ayah yang mengajarkan cara berdoa. Ayah yang mengajak bermain. You understand me, you teach me how to pray, and you play the game I love to play.. Satu ayah yang kemudian menyemangati sang anak sehingga sang anak mampu berkata,” Sometimes I might do wrong but I never stop trying to be your number one. I love you Daddy”.

Satu dari sejuta ayah itu antara lain adalah Luqman al-Hakim, hamba Allah yang sholeh. Luqman ibn Anqa’ bin Sadun. Tidak ada ayat di dalam al-Qur’an yang secara detil dan berurutan memuat materi tarbiyatul awlaad (pendidikan anak) kecuali ayat-ayat di dalam Surat Luqman, antara ayat 13-19 tentang perbincangan Luqman dengan putranya, Taran. Materi perbincangan dimulai dari masalah aqidah (tidak menyekutukan Allah, merasakan pengawasan Allah/muroqobatullah), akhlak (berbakti kepada kedua orangtua yang kafir sekalipun, tidak menyombongkan diri, menjaga suara, sabar dalam ujian hidup),hingga ibadah (menunaikan shalat).

Luqman menjadi figur pendidik di dalam al-Qur’an, menjelaskan secara detil tentang apa yang dimaksud Allah dengan perintah “Hai orang-orang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api nereka…” yang ada di dalam surat At-Tahrim ayat 6. Mendidik anak adalah pekerjaan besar dan peran besar. Sesungguhnya para ibu membutuhkan kekuatan pendukung untuk melakukan pekerjaan besar dan peran besar ini. Anak membutuhkan kasih tak terhingga dari bunda, dan peran bintang sang ayah. Peran besar ini tentu saja terutama dalam menjadikan buah hati ayah sebagaimana do’a nabi Ibrahim,”Rabbij’alliy muqimashsholaati, wan mindzurriyyati,” (ya Allah jadikan aku dan keturunanku para pendiri shalat) dan “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun wa\j ‘alnaa lil uttaqiina imaaman”.

Yang paling utama, ayah menyempatkan diri untuk secara intens memperkenalkan agama dan ibadah kepada buah hati. Agendakan ‘pengajian keluarga’ minimal satu kali dalam sepekan. Bisa sekedar tadarusan, bercerita tentang tokoh-tokoh Islam, atau membahas buku agama. Selain itu, beberapa tips di bawah ini semoga dapat memberi inspirasi:

-Sempatkan bermain bersama Lewatkan waktu bersama sesuaikan dengan perkembangan usia anak. Bermain membaca buku atau melakukan aktivitas yang menyenagkan, membaca, mewarnai atau melakukan keterampilan menggunting, menempel secara bersama-sama.

-Libatkan diri dalam kehidupan sosial sang buah hati ayah -Anak usia sekolah memulai kehidupan sosial yang baru. Usahakan terlibat dalam kehidupan sosial mereka dengan mengenali misalnya nama teman-temannya, dengan siapa dia bergaul, aktivitas yang dia lakukan bersama temannya atau nama guru TK/SD nya, termasuk tak enggan untuk mengambil raport di sekolah.

-Sempatkan untuk mendengar- Kesibukan kerja terkadang membuat ayah mengabaikan cerita-cerita anak. Berikan keseimbangan antar kerja dan keluarga, atau usahakan jangan membawa pekerjaan ke rumah. Luangkan waktu 5 menit saja untuk mendengarkan celotehannya dan mengerti betul isi cerita itu.

-Usahakan terus terhubung dengan anak ayah- Bila ayah sedang dinas luar, usahakanlah tetap menjalin komunikasi dengan baik, melalui telepon atau chatting internet. Tunjukkan perhatian Anda, rasa sayang Anda melalui telepon, sms atau melalui surat. Jangan lupa untuk menanyakan masalah ibadah, selain urusan sekolah.

-Percayai anak ayah dan berikan kebebasan
Kebebasan dan kepercayaan ayah akan menjadikan anak percaya diri dan mandiri. Hindari untuk mendiktenya untuk melakukan A. Selalu memberikan pilihan, misalnya Tegar mau A atau mau B? Tetaplah membuka kemungkinan pilihan lain selama pilihan itu tidak bertentangan dengan hal prinsip. Penuhilah sesuai kebutuhannya Bertambah dewasa seorang anak, akan semakin bertambah kebutuhannya, semakin beragam dan variatif. Ayah bunda perlu bekerja sama membekali diri dengan info-info terkait perkembangan anak.

Pada akhirnya, semoga ayah menjadi pahlawan dan super bintang. “Daddy, you are my hero. You are my superstar”.

Sri Vira Chandra.D. INSPIRED By: “i LOVE YOU DADDY, by Richardo and friends.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: